#adslayoutleft { position:fixed; top:10px; margin-left :335px; float:left; z-index:10; } #adslayoutleft .iklankiri { float:right; clear:both; } #adslayoutleftright { float:right; position:fixed; top:10px; margin-left:-800px; z-index:10; } #adslayoutleftright.iklankanan { float:left; clear:both; }

Minggu, 03 Juni 2012

CINTA MATI ?


CINTA MATI?
Banyak orang berkata “Jika aku tak bisa memilikimu lebih baik aku mati”, apakah ini berarti CINTA adalah pembunuh? Mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengerti memang “ya”, tapi bagiku tidak.
Menurutku Cinta itu menjadikan bahagia, senang, dan merasa berharga. Lihatlah dimana cinta berada!. Pada pernyataan “Aku Cinta Kamu” terlihat bahwa “Cinta” itu berada di antara “Aku” dan “Kamu” tapi kebanyakan orang  tak melihatnya, mereka tidak berfokus pada kata “Cinta” yang membuat mereka bahagia tapi berfokus pada kata “Kamu”  dalam artian kamu harus jadi milikku.
Banyak yang kecewa, sedih, stress, ada yang sampai bunuh diri. Hal itu terjadi karena mereka berkonsentrasi pada “kamu” bukan pada “cinta”. Bukannya bersyukur karena dapat merasakan “cinta”, mereka malah berfokus pada “kamu” dan menganggap memiliki “kamu” (orang yang di cinta) adalah solusi dari pernyataan “ Aku Cinta Kamu”.
"Aku Cinta Mati” sering terdengar di telinga tapi mereka yang  mengatakan hal itu tak sadar bahwa bukan cinta yang membuat kata “Mati” ada di sana, tapi “kamu” yang bergeser akibat respon dari “cinta” yang tak terarah dengan benar telah  mengaburkan antara “mati” atau “kamu”. Mereka seolah-olah melihat “kamu” tapi sebenarnya pandangan merka telah kabur kearah “mati”, jadi dengan sedikit kekecewaan atas penolakan dari “kamu” akan membuatnya benar-benar mati.
Bukan “cinta” yang membuat “mati” tapi reaksimu terhadap penolakan atas tidak bisa memiliki “kamu” yang jadi penyebabnya , seperti kata Stepen R. Covey  “bukan apa yang terjadi pada kita, melainkan respon kita terhadap apa yang terjadi pada kitalah  yang menyakiti kita”.
Jadi intinya bukan “cinta “yang membuat kita “mati” tapi respon terhadap “cinta” yang mengarah ke “kamu” yang telah membunuhmu karena kekecewaanmu telah menggantikan “kamu’ menjadi “mati”.

Oleh: Cipto suhari 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar